UMMATPOS.COM
Kabar Ummat Terdepan

Respon Kebebasan yang Tak Cerdas

Oleh: Arif Wibowo, M.PI

KETIKA reformasi bergulir, dimana euforia kebebasan berlangsung, maka Marxisme tidak lagi menjadi hal yang ditabukan untuk khalayak umum. Karya-karya Pramoedya Ananta Toer, Tan Malaka bahkan Aidit direproduksi dan menjadi bacaan keseharian aktifis mahasiswa.

Dalam memandang peristiwa tahun 1965 misalnya, setelah masyarakat Indonesia selama 32 tahun hanya diperbolehkan menerima sejarah versi Orde baru, kini buku-buku dengan perspektif PKI sebagai korban pembantaian justru menjadi wajah utama dunia penerbitan. Sebut saja buku The Indonesian Killings, Pembantaian PKI di Jawa dan Bali 1965-1966, karya Robert Cribd, Bung Karno Menggugat! Dari Marhaen, CIA, Pembantaian Massal hingga G 30 S, tulisan Baskara T Wardaya, Bayang-Bayang PKI, karya tim ISAI, Kudeta 1 Oktober 1965: Sebuah Analisa Awal, karya Bennedict Anderson dan Ruth T Mc. Vey dan masih banyak judul lainnya.

Sementara karya yang berangkat dari perspektif Islam Politik masih sangat minim, bahkan bisa dibilang tidak ada. Buku karya H. Abdul Mun’im DZ, Benturan NU dan PKI 1948 – 1965, terbitan Langgar Swadaya PBNU, 2014, mungkin menjadi satu-satunya buku yang disengaja ditulis untuk menampilkan perspektif kalangan pesantren terhadap peristiwa G 30 S PKI 1965. Namun sepertinya, para politisi muslim memang selalu lambat merespon tantangan realitas. Hal inilah yang kemudian menjadi satu kritik menarik dari pak Kuntowijoyo pada peristiwa masa lalu, dimana akhirnya PKI popularitasnya bisa mengungguli SI Putih.

“Sejarah Indonesia menunjukkan bahwa SI Merah lebih populer dibanding SI putih, dan PKI lebih populer dari Partai-Partai Islam, di kalangan buruh tani dan buruh (industri) karena umat tidak sensitif dengan munculnya proletarianisasi di pedesaan dan perkotaan, dianak tirikannya buruh tani dan buruh. Demikian pula terbukti bahwa para aktifis buruh tani dan buruh hanya dipandang sebelah mata oleh umat, seolah buruh tani bukan bagian dari umat (Kuntowijoyo: 2006)

Dan sejarah sepertinya akan terus berulang. Saat ini, bukan hanya kelambanan respon terhadap realitas yang menjadi problem “Islam Politik” dalam membangun kesadaran umat, polarisasi tradisionalisme vs modernisme, asy’arisme vs wahabisme, diakui atau tidak telah melemahkan kohesivitas umat Islam. Akibatnya, konflik wacana keagamaan antara Asy’arisme dan Wahabisme menjadi begitu membosankan di kalangan aktifis mahasiswa bahkan di kalangan mahasiswa Islam. Itu sebabnya jamak dijumpai aktifis organisasi Islam seperti HMI, KAMMI, IMM maupun PMII lebih mengakrabi buku-buku karya Pramoedya Ananta Toer, Tan Malaka, Antonio Gramsci, Paolo Freire bahkan karya Aidit yang menurut mereka lebih memberikan pencerahan dalam mewujudkan kesalehan sosial. Suatu ironi, sebab disisi lain, sebagian umat Islam sedang galak-galaknya terhadap segala yang berbau kiri dan komunis, lihat saja puluhan spanduk yang mengatasnamakan umat Islam, yang terpampang di banyak ruas jalan itu.

Rujukan

Kuntowijoyo, Islam Sebagai Ilmu, (Yogyakarta : Tiara Wacana, 2006).

PILIHAN REDAKSI