UMMATPOS.COM
Kabar Ummat Terdepan

Turn Back Hoax! Menghantam Balik Hoax Dengan Meningkatkan Budaya Baca

Faisal Mursila, M.Pd.I*

SEBELUM memposting tulisan ini, sebuah foto di layar laptop sempat menarik perhatian saya. Tampak sederet orang sedang berpose dengan mengepalkan tinjunya, diantara mereka ada yang mengenakan pakaian berwarna biru dengan tulisan khas yang sempat populer, Turn Back Crime!? Mereka adalah komunitas Masyarakat Anti Fitnah Indonesia.

Tapi sepertinya ada yang salah baca, ternyata bukan itu tulisannya. Setelah diperhatikan lagi, tulisan di baju ala bareskrim polri yang mereka kenakan itu bertuliskan, Turn Back Hoax!

Warganet yang budiman, sudah bukan rahasia lagi bahwa berita palsu alias hoax merajalela di ranah digital Tanah Air. Jalurnya bisa berupa situs online atau daring, media sosial, hingga chatting di aplikasi pesan instan.

Kenapa orang Indonesia getol menyebarkan hoax? Menjawab pertanyaan ini, Ketua Masyarakat Indonesia Anti Hoax, Septiaji Eko Nugroho mengutarakan bahwa sebabnya mungkin berkaitan dengan penggunaan teknologi yang tidak dibarengi dengan budaya kritis melihat persoalan.

Walhasil, menurut Septiaji, masyarakat pengguna internet di Indonesia cenderung suka menyebarkan informasi ke orang lain tanpa lebih dulu memeriksa kebenarannya.

Tokoh pendidikan, Anies Baswedan dalam sebuah kesempatan pernah menyebut bahwa minat membaca masyarakat Indonesia berada di peringkat 60 dari 61 negara.  Keterangan pak Anies mengacu pada hasil riset World’s Most Literate Nation yang dipublikasikan pertengahan tahun lalu. Dari 61 negara yang dilibatkan dalam studi tersebut, Indonesia memang menempati urutan ke-60 soal minat baca masyarakatnya.

Jadi singkatnya, di NKRI yang kita cintai ini, kalau soal literasi menduduki peringkat terbawah, tapi kalau soal keaktifan di media sosial paling jago. Semua dishare, apapun diposting, semua dikomentari, tapi tanpa literasi.

Komentar Tanpa Literasi
Setelah mencerna kata terakhir di atas, sebagian kita bahkan masih mencari-cari maksudnya. Tentu ia bukan bumbu dapur yang terbuat dari udang dan beraroma khas. literasi atau literer sendiri menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah (sesuatu yang) berhubungan dengan tulis menulis. Secara terminologi, masyarakat literasi (literate society) secara sederhana diartikan sebagai masyarakat yang gemar membaca dan menulis.

Rendahnya minat baca ditambah pesatnya perkembangan teknologi yang tidak disikapi dengan bijak menjadi pemicu maraknya hoax. Survei Asosiasi Penyelenggara Jaringan Internet Indonesia (APJII) sepanjang 2016 menunjukkan bahwa sekitar separuh penduduk Indonesia sudah tersambung dengan jaringan internet. Hal ini juga didorong oleh pesatnya perkembangan infrastruktur TI seperti smartphone di Tanah Air. Makin mudahnya masyarakat dalam mengakses internet tersebut ikut mendorong merajalelanya hoax di media sosial.

Intensitas hoax semakin meningkat dan sudah dalam tahap yang mengkhawatirkan. Data Indonesia Indicator mencatat sepanjang tahun 2016 ada 7311 berita hoax yang diekspos media. Ini berarti rata-rata sebulan ada 609 berita, dan per hari ada 20 berita hoax. Luar biasa. Setiap hari otak kita dijejali dengan 20 berita fitnah atau setidaknya belum bisa dipercaya kebenarannya. Berita-berita itu lah yang setiap hari memenuhi timeline Twitter kita, menjejali beranda Facebook kawan-kawan kita.

Tabayyun!
Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara kembali mengimbau publik untuk terlebih dahulu memastikan kebenaran suatu informasi sebelum membagikannya di media sosial.Hal itu merespons maraknya penyebaran informasi hoax dalam beberapa waktu terakhir.

“Kita juga di Islam kan diajari tabayyun (klarifikasi). Kalau ada apa-apa tabayyun, nomor dua tabayyun, nomor tiga tabayyun,” kata Rudiantara di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (10/1).

“Kalau mau dikirim, harus pastikan yang dikirim adalah yang benar,” tutur dia.

Menarik mencermati pesan Pak Rudiantara yang pastinya terinspirasi dari ajaran Islam. Kata tabayyun yang dikutip beliau akan lebih jelas dipahami jika kita kembalikan pada defenisi syariat. Sebab ia adalah bahasa al-Quran.

Kata ini terdapat dalam al Quran surah al Hujurat [49] ayat 6:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

Artinya
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”

Secara singkat, kata tabayyun berasal dari kata بَانَ بَيَانًاوَتِبيَانًا yang artinya tampak, jelas, terang. Menurut Tafsir Al-Aisar فَتَبَيَّنُوْا Fatabayyanu artinya periksalah sebelum kalian berbicara atau berbuat atau mengambil keputusan. Maka tabayyun adalah pengecekan kebenaran informasi.

Penjelasan lebih lanjut mengenai ini dapat pembaca simak melalui pembahasan di artikel khusus tentang tafsir dan tadabburnya, namun di kolom ini penulis hanya ingin memberikan tambahan pengantar bahwa menghadapi banyaknya fitnah hoax, kita juga harus meningkatkan minat baca kita. Data yang telah kami sajikan di awal tulisan ini selayaknya menjadi bahan renungan untuk kembali membaca.

Iqra, bacalah!

Seiring berjalannya waktu, tak bisa dipungkiri generasi muda hari ini termasuk pelajarnya seolah ter-ninabobok-kan pada sebuah kondisi nyaman mereka. Hal ini merupakan salah satu dampak dari globalisasi yang ditandai dengan berbagai fasilitas yang melalaikan. Salah satu contohnya, pelajar sekarang terlalu asyik menatap layar gadgetnya seharian hanya untuk update status, curhat di sosial media. Alokasi waktu untuk membaca pun perlahan-lahan berkurang dan bisa jadi ini berpotensi untuk lenyap.

Bukankah ayat suci Al-Quran yang pertama kali diturunkan adalah tentang membaca? Surat tersebut turun di awal-awal kenabian. Ketika itu Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tidak tahu tulis menulis. Lantas Malaikat, Jibril datang dengan membawa risalah atau wahyu. Lalu ia pun memerintahkan nabi untuk membacanya. Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam enggan. Beliau berkata, “Aku tidak bisa membaca.” (HR. Bukhari). Beliau terus mengatakan seperti itu sampai akhirnya beliau pun membaca, dituntun malaikatNya.

Wahyu pertama yang sampai kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah perintah membaca dan pembicaraan tentang pena dan ilmu. Sudah selayaknya ini terus disegarkan sebagai bahan pelajaran sebelum menyebarkan ilmu dan mengibarkan panjiNya (berdakwah). Nabi yang tidak tahu baca tulis ini saja perintah pertama yang harus dikerjakannya adalah membaca.

Sebuah hal yang cukup mengerikan jika para pelajar sudah tidak lagi memiliki semangat untuk memperbanyak literasi keilmuan mereka melalui membaca. Perlu adanya upaya untuk kembali menggelorakan spirit membaca di kalangan pelajar. Apalagi dalam Islam juga  sudah jelas landasan naqlinya yakni pada Q.S. Al Alaq yang mengajak kita untuk membaca. Maka, iqra, baca dong! Jangan malas, baca juga lanjutan ayat ini, Iqra, bismirabbika, bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu. Hingga akhirnya, selamat melanjutkan bacaan Anda!

Cipayung, Jakarta Timur, 17 Jumadil Awwal 1438

*Penulis adalah redaktur Majalah Sedekah Plus

PILIHAN REDAKSI