UMMATPOS.COM
Kabar Ummat Terdepan

Sebab Sempitnya Rizki Yang Sering Tidak Disadari

Banyak manusia yang mengeluhkan tentang sempitnya rizki dalam kehidupannya, padahal tanpa sadari dia sendirilah yang melakukan hal-hal yang tanpa dia sadari menjadi penyebab sempitnya jalan rizkinya. Jika anda anda orang bertakwa lalu ekonomi terasa sulit maka itu adalah ujian, tetapi bisa juga rizki terasa susah dan disebabkan melakukan hal-hal yang salah, bisa jadi tidak disadari tetapi sangat berpengaruh bagi kehidupan anda di dunia maupun di akherat.

Diantara hal-hal yang bisa menjadi sebab bagi sempitnya rizki adalah;

  • Pelit Dan Enggan Berinfak

Jarang yang menyadari bahwa setiap pagi turun dua malaikat yang mendoakan manusia, yang gemar berinfak maka aka nada keberkahan dalam hartanya. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah bersabda,

مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيهِ إِلَّا مَلَكَانِ يَنْزِلَانِ فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا وَيَقُولُ الْآخَرُ اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًاتَلَفًا

“Pada setiap hari, tidaklah ada hamba yang berada di pagi harinya melainkan ada dua malaikat yang turun. Salah satu malaikat mengatakan: Ya Allah, berikanlah ganti untuk orang yang meninfakkan (hartanya). Malaikat yang satunya mengatakan: Ya Allah, timpakan kehilangan bagi orang yang menahan (hartanya).” (HR. al-Bukhari no. 1351, dan Muslim no. 1678

  • Riba

Zaman ini riba telah menggurita, hanya orang yang mau belajar agama dan mengamalkannya saja yang bisa terbebas darinya, padahal riba adalah salah satu pemupus keberkahan harta. Bisa diamati mereka –mereka yang bergelimang dengan riba walaupun sepintas terlihat besar tapi sebenarnya rapuh bahkan tidak sedikit yang bangkrut gulung tikar disebabkan riba. Allah Ta’ala berfirman,
يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ وَاللَّهُ لا يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ  
“Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa” (Qs. Al-Baqoroh:276)

  • Tidak Jujur dan Tidak Amanah

Ketidak jujuran dan kekurang amanahan adalah dua factor yang menyebabkan rusaknya nama baik pelakunya. Tidaj butuh waktu lama bahwa orang-orang yang tidak amanah serta terbiasa curang untuk kehilangan kepercayaan. Semaki lama maka usahanya makin dijauhi oleh orang-orang yang mengetahui sifatnya.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, 

متالْبَيِّعَانِ بِالْخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا ، فَإِنْ صَدَقَا وَبَيَّنَا بُورِكَ لَهُمَا فِي بَيْعِهِمَا ، وَإِنْ كَتَمَا وَكَذَبَا مُحِقَتْ بَرَكَةُ بَيْعِهِمَا 

“Penjual dan pembeli masih boleh memilih (untuk meneruskan transaksi atau membatalkannya) selama mereka belum berpisah. Jika keduanya jujur dan menjelaskan apa adanya, maka keduanya diberkahi dalam jual belinya. Jika keduanya menyembunyikan (cacat)  dan berdusta, maka akan dihapus berkah pada keduanya.” (HR. Bukhari, no. 1973, Muslim, no. 1532)

  • Tidak Mengeluarkan Zakat Harta

Bedanya dengan infak adalah hukumnya, bahwa zakat harta hukumnya adalah wajib bagi yang telah memenuhi syarat. Bagi yang memiliki harta senilai 85 gram emas murni atau lebih (mencapai nishob) dan telah berada bersamanya selama setahun (tercapai khaul) maka wajib baginya mengeluarkan zakat 2,5% setiap tahunnya.

Zakat bukan hanya berpahala, meringankan fakir miskin papa, tetapi juga mensucikan dan menjadi sebab keberkahan serta terjaganya harta yang tersisa. Dan bagi yang menahan zakat maka keadaanya sangat berbahaya.

Dalam hadits Riwayat Bukhari disebutkan:

Infaqkanlah hartamu. Janganlah engkau menghitung-hitungnya (menyimpan tanpa mau bayar zakat dan sedekah). Jika tidak, maka Allah akan menghilangkan berkah rezki tersebut. Janganlah menghalangi anugerah Allah untukmu. Jika tidak, maka Allah akan menahan anugerah dan kemurahan untukmu.” (An-Nawawi, Riyadhus Shalihin).

Allah Ta’ala juga menjamin bahwa harta yang dikeluarkan di jalan –NYA tidaklah akan merugi.

Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.” (QS. Saba’: 39). Wallahu a’lam

  • Pemalas dan Suka Berangan-Angan

Islam adalah agama amal dan sangat membenci kemalasan. Karena kemalasan adalah pangkal kegagalan termasuk dalam masalah ekonomi. Rasulullah shalalahu ‘alaihi wassalam bahkan menyuruh ummatnya yang mmeulai aktifitas cepat di pagi hari, dan dalam banyak sekali hadits beliau menyanjung orang-orang yang giat bekerja dengan tangannya, serta mencontohkan doa agar kita berlindung dan dijauhi dari sifat malas.

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca do’a:

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْجُبْنِ وَالْهَرَمِ وَالْبُخْلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ

Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, rasa malas, rasa takut, kejelekan di waktu tua, dan sifat kikir. Dan aku juga berlindung kepada-Mu dari siksa kubur serta bencana kehidupan dan kematian).” (HR. Bukhari no. 6367 dan Muslim no. 2706)

Rajinlah dalam segala hal dan salah satu sikap rajin dan tidak malas adalah bangun dan memulai aktifitas dengan cepat di pagi hari.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «بُورِكَ لِأُمَّتِي فِي بُكُورِهَا»

Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, dia berkata, Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam pernah bersabda, “Diberkahi bagi umatku pada waktu pagi harinya”

(Hadits shahih diriwayatkan oleh At-Tahbrani Al-Mu’jamul al-Ausath 1/229 no. 754, lihat Shohih Jami’us Shoghiir no. 2841)

 

PILIHAN REDAKSI